SERANG, INTTI.ID – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang turun pada Jumat (2/1/2026) malam hingga Sabtu (3/1/2026) menyebabkan banjir di sejumlah kawasan Kota Cilegon, Banten.
Banjir di kota baja ini merendam kawasan industri dan pemukiman warga. Banjir juga melumpuhkan sejumlah akses vital, termasuk jalur utama menuju destinasi wisata Pantai Anyer, Kabupaten Serang.
Bencana banjir tidak hanya melanda satu kawasan, melainkan merata di lima kecamatan kota baja, yakni Ciwandan, Cibeber, Cilegon, Grogol, dan Kecamatan Pulomerak. Dampak yang ditimbulkanpun cukup serius. Ribuan jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
BACA JUGA: Waspada, Debit Air Bendung Pamarayan Baru Meningkat Drastis
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, Suhendi menyebut sebanyak 1.119 jiwa di lima kecamatan yang merupakan jantung aktivitas warga dan kawasan penyangga industri tersebut, terdampak langsung dari limpasan banjir tersebut.
Faktor penyebab utama banjir diidentifikasi sebagai kombinasi antara curah hujan ekstrem yang merata di seluruh kawasan serta adanya kiriman air dalam volume besar dari bagian hulu. Sungai meluap merendam permukiman warga dan jalan raya.
Kecamatan Cilegon, menjadi kawasan yang paling parah terendam banjir dibanding lainnya. Ketinggian air di kawasan ini antara 80 sentimeter hingga 1 meter. Kedalaman air yang mencapai dada orang dewasa ini, membuat aktivitas warga lumpuh total.
Situasi diperparah dengan karakteristik banjir yang datang secara tiba-tiba pada pagi hari. Waktu kejadian yang mendadak ini membuat banyak warga tidak memiliki persiapan yang memadai untuk mengevakuasi harta benda mereka.
Akibatnya, kerugian materiil diprediksi cukup besar karena banyak barang berharga, perabotan rumah tangga, hingga kendaraan bermotor yang terendam air sebelum sempat diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi.
Tidak hanya menyasar area residensial, genangan air juga melibas sektor pertanian dengan merendam area persawahan dan perkebunan milik warga, yang berpotensi memicu gagal panen.
Dampak banjir Cilegon juga memukul sektor pariwisata dan industri. Banyak akses jalan terputus, mengisolasi warga di sejumlah lokasi. Wisatawan dari luar daerah yang hendak menghabiskan akhir pekan tak bisa mencapai kawasan Pantai Anyer.
Jalur protokol yang biasanya padat kendaraan wisatawan sempat terputus total karena ketinggian air yang berisiko untuk dilalui kendaraan jenis apapun. Merespons kondisi darurat di jalan raya, rekayasa lalu lintas segera diterapkan untuk mengurai kemacetan panjang yang mulai mengular.
Hingga Sabtu siang, meskipun kendaraan kecil perlahan sudah mulai bisa melintasi jalur menuju Anyer, kondisinya belum sepenuhnya normal dan masih sangat berisiko.
Guna mengantisipasi potensi kendaraan mogok di tengah banjir dan kemacetan yang lebih parah, arus lalu lintas dari arah Cilegon Timur yang hendak menuju kawasan wisata Anyer secara resmi dialihkan melalui jalur alternatif Mancak.
Para pengendara yang dialihkan ke jalur Mancak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat kontur jalan di jalur alternatif tersebut yang berkelok dan menanjak, berbeda dengan jalur utama yang cenderung landai.
Pengalihan ini diharapkan dapat menjaga kelancaran logistik ke kawasan industri dan tetap memungkinkan akses bagi wisatawan meski dengan waktu tempuh yang mungkin sedikit lebih lama.
Ribuan Warga Mengungsi
Di sisi penanganan pengungsi, ratusan rumah warga saat ini masih terendam banjir. Kondisi ini memaksa sebagian penghuninya untuk meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Fasilitas umum seperti musala dan rumah kerabat yang tidak terdampak banjir menjadi lokasi pengungsian sementara bagi warga yang rumahnya tidak bisa dihuni.
Kebutuhan mendesak bagi para pengungsi saat ini meliputi logistik makanan, air bersih, dan perlengkapan tidur yang kering.
Meskipun laporan terkini menyebutkan bahwa di beberapa titik air mulai menunjukkan tanda-tanda surut, namun kecemasan belum sepenuhnya hilang dari wajah warga Cilegon.
Cuaca yang masih tidak menentu dan langit yang masih mendung membuat warga tetap waspada akan adanya potensi banjir susulan. Masyarakat sangat berharap agar hujan dengan intensitas tinggi tidak kembali mengguyur dalam waktu dekat.
Jeda tanpa hujan sangat dibutuhkan agar proses pembersihan lumpur sisa banjir dan pemulihan aktivitas ekonomi warga dapat segera dilakukan oleh tim gabungan dan masyarakat setempat.(Ald)
sumber: banpos.co















