SERANG, INTTI.ID – Produksi ikan di Provinsi Banten ternyata belum mampu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seluruh masyarakatnya di kota dan kabupaten. Padahal, Banten punya laut seluas lebih dari 11.112 kilometer persegi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, Agus Supriyadi kepada wartawan, Senin (9/2/2026) mengakui hasil tangkapan ikan nelayan maupun hasil budidaya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ikan.
Berdasarkan data tahun 2025, kata dia. total produksi perikanan Banten hanya mencapai 190.000 ton per tahun. Jumlah tersebut berasal dari kontribusi perikanan tangkap sebesar 75.000 ton dan perikanan budidaya sebanyak 115.000 ton.
BACA JUGA: DPR dan Pemerintah Sepakati Lima Poin Terkait Penonaktifan 11 Juta Peserta BPJS Kesehatan
Angka tersebut, kata Agus, berbanding terbalik dengan kebutuhan masing-masing daerah di Banten yang mencapai 500.000 ton per tahun.
“Jadi Banten masih kekurangan pasokan ikan sebanyak 310.000 ton. Ini ironis, Banten punya laut luas dan sumber daya yang mumpuni untuk produksi ikan. Berarti ini ada yang harus dioptimalkan,” ujar Agus.
Menurut Agus, kekurangan pasokan ikan yang mencapai ratusan ribu ton ini, menjadi salah satu perhatian yang harus segera dicarikan solusinya. Mengingat, Banten berada di titik pertemuan tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yakni 712, 573, dan 572.
Agus menyebut, kawasan laut Banten sebagai salah satu yang paling strategis di tingkat nasional, sehingga potensi yang ada seharusnya bisa digarap lebih maksimal untuk kepentingan daerah.
Kesenjangan antara pasokan dan permintaan ini, lanjutnya, dikhawatirkan akan berdampak domino pada stabilitas ekonomi warga.
“Jika tidak segera ditangani, kekurangan ini diprediksi akan terus membengkak dan memicu kenaikan harga di pasar,” tegasnya.
Lebih lanjut Agus mengatakan, pada 2026 ini pihaknya mencoba mengoptimalkan berbagai upaya untuk menekan agar defisit ikan yidak semakin besar. Karena ini akan mempengaruhi harga ikan, dan pengaruh kepada program Gemar Makan Ikan.
Untuk itu Agus menyatakan pihaknya mulai menggalakkan berbagai program strategis. Salah satunya penerapan Cara Berbudidaya Ikan yang Baik (CBIB) serta pengawasan ketat terhadap alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
BACA JUGA: Kebakaran Gudang Kimia di Tangsel Diduga Picu Pencemaran Sungai Cisadane
Selain itu, tambahnya, koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus diperkuat untuk memberantas praktik illegal fishing yang kerap merugikan nelayan lokal, khususnya di Banten.
“Kami juga berkoordinasi dengan KKP untuk memberantas ilegal fishing, ” ujarnya.
Agus juga menyoroti melemahnya sektor budidaya yang dulunya merupakan kebanggaan Banten. Ia menyayangkan kebijakan masa lalu yang kurang tepat sehingga membuat performa budidaya ikan di Banten ini menurun.
Untuk membangkitkan kembali sektor ini, kata dia, diperlukan kolaborasi lintas instansi dan dukungan dari organisasi nelayan, seperti Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
“Kami berharap semua pihak, terutama nelayan bisa optimal lagi dalam memproduksi ikan,” tandasnya.(ALD)
sumber: banpos.co









