JAKARTA, INTTI.ID – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran tidak hanya mengguncang medan militer, tetapi juga memicu gejolak serius di pasar global. Ketidakjelasan arah perang dan potensi perluasan konflik kawasan kini menjadi faktor utama yang menekan ekonomi dunia.
Pasar bereaksi keras setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan, tanpa memberikan kejelasan kapan konflik akan berakhir.
Harga minyak melonjak tajam menembus 100 dolar AS per barel, sementara saham global merosot dan dolar menguat. Investor merespons ketidakpastian tersebut dengan menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.
BACA JUGA: Iran Kirim Hadiah Ratusan Rudal ke Israel saat Libur Passover
“Pasar tidak mendapatkan kepastian atau kejelasan tambahan mengenai jangka waktu konflik,” kata Jon Withaar dari Pictet Asset Management, menyoroti kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi lanjutan.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Utama
Ketegangan semakin tajam karena Selat Hormuz, jalur vital energi global, masih berada dalam ketidakpastian. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dunia, terutama bagi negara-negara Asia.
Meski Trump menyebut jalur tersebut akan terbuka “secara alami” setelah perang berakhir, pasar tidak melihat indikasi bahwa hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi berkepanjangan, yang berpotensi mendorong inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Konflik Meluas, Iran Ubah Strategi
Di tengah tekanan militer, Iran dan sekutunya dinilai mengadopsi strategi yang berbeda dari perang konvensional. Alih-alih menghadapi langsung superioritas militer AS dan Israel, Teheran justru memperluas arena konflik ke berbagai kawasan.
Pakar hubungan internasional Murad Sadygzade menilai perang ini telah berkembang menjadi konfrontasi regional yang kompleks.
“Apa yang kita saksikan bukan lagi bentrokan terbatas, tetapi konflik yang meluas di mana sekutu Iran mulai terlibat secara langsung,” tulisnya.
Front konflik kini tidak hanya berada di Iran, tetapi juga meluas ke Lebanon, Irak, hingga Yaman. Kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran membuka tekanan baru terhadap kepentingan AS dan Israel, menciptakan medan perang yang tersebar.
Strategi ini tidak bertujuan meraih kemenangan cepat, melainkan memperpanjang konflik dan meningkatkan biaya bagi lawan.
Tekanan Ekonomi Global Kian Nyata
Perluasan konflik tidak hanya berdampak militer, tetapi juga ekonomi global. Ancaman terhadap jalur pelayaran utama, termasuk Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, berpotensi mengganggu rantai pasokan dunia.
Gangguan tersebut dapat memicu kenaikan biaya logistik, lonjakan harga komoditas, serta tekanan inflasi yang meluas.
Dampaknya sudah mulai terasa. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memperingatkan krisis bahan bakar akibat konflik ini dapat berlangsung berbulan-bulan.
BACA JUGA: Dirudal Iran, 13 Markas AS di Teluk Kini Jadi Pangkalan Hantu
Australia, yang sangat bergantung pada impor energi, mulai mengalami tekanan serius pada pasokan bahan bakar. Pemerintah setempat bahkan mendorong masyarakat mengurangi konsumsi dan beralih ke transportasi publik sebagai langkah mitigasi.
Salah Perhitungan Strategis?
Sejumlah analis menilai eskalasi konflik justru menunjukkan adanya potensi salah perhitungan dari pihak yang memulai tekanan militer.
Alih-alih mengisolasi Iran, tekanan yang meningkat justru memperkuat keterlibatan sekutu-sekutunya di kawasan. Hal ini membuat konflik menjadi lebih luas, kompleks, dan sulit dikendalikan.
“Iran tidak perlu menang secara konvensional. Cukup memastikan lawannya tidak bisa meraih kemenangan cepat,” demikian analisis tersebut.
Dalam kondisi ini, keunggulan militer tidak otomatis menjamin keberhasilan strategis. Kemampuan untuk memperluas konflik dan mengganggu stabilitas global justru menjadi faktor penentu baru.
Perang Tanpa Kepastian Akhir
Dengan dinamika yang terus berkembang, konflik AS-Israel melawan Iran kini memasuki fase yang lebih tidak terprediksi.
Klaim kemenangan yang disampaikan di satu sisi berhadapan dengan realitas lapangan yang menunjukkan konflik semakin meluas dan berdampak global.
Bagi pasar, investor, dan negara-negara yang bergantung pada stabilitas energi, satu hal menjadi semakin jelas: perang ini belum mendekati akhir.
Dan selama ketidakpastian itu bertahan, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia. (ALD)
sumber: republika














