Info Dunia

Dirudal Iran, 13 Markas AS di Teluk Kini Jadi Pangkalan Hantu

Avatar photo
1
×

Dirudal Iran, 13 Markas AS di Teluk Kini Jadi Pangkalan Hantu

Sebarkan artikel ini
Dirudal Iran, 13 Markas AS di Teluk Kini Jadi Pangkalan Hantu
Citra satelit menunjukan salah satu pangkalan militer AS di Teluk luluh lantak setelah dibombardir iran.

WASHINGTON, INTTI.ID – Serangan balasan Iran terhadap agresi ilegal AS-Israel sejak 28 Februari 2026 lalu, disebut telah memorakporandakan sebagian besar pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. The New York Times melaporkan, pangkalan-pangkalan militer itu, kini tidak berpenghuni dan menjadi pangkalan hantu.

Serangan Iran dilaporkan memaksa banyak tentara Amerika untuk pindah ke hotel dan ruang kantor di seluruh wilayah tersebut, menurut personel militer dan pejabat Amerika. Saat ini, sebagian besar tentara AS yang berbasis di darat, pada dasarnya, berperang sambil bekerja dari jarak jauh, dengan pengecualian pilot dan awak pesawat tempur yang mengoperasikan dan merawat pesawat tempur serta melakukan serangan.

Advertising
banner 425 x 400
Baca Artikel Scroll ke Bawah

Iran menanggapi dengan tegas serangan gabungan Amerika dan Israel, yang menargetkan tidak hanya pangkalan AS tetapi juga kedutaan besar serta infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah.

BACA JUGA: Israel Kembali Dihujani Rudal Iran, Tel Aviv Porak Poranda

Dengan syahidnya pemimpin tertingginya dan puluhan pemimpin lainnya, Iran membalas dengan meluncurkan ratusan drone dan rudal ke negara-negara tetangga dan sebagian besar menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting, memastikan perang akan dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia.

Dilaporkan the New York Times pada Rabu (25/3/2026), banyak dari 13 pangkalan militer di wilayah yang digunakan oleh pasukan Amerika semuanya tidak dapat dihuni. Pangkalan di Kuwait, yang bersebelahan dengan Iran, disebut luluh lantak paling parah. Enam anggota militer AS tewas dalam serangan di Port Shuaiba yang menghancurkan pusat operasi taktis Angkatan Darat.

Drone dan rudal Iran juga menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem, merusak struktur pesawat dan melukai personel, serta Kamp Buehring, merusak fasilitas pemeliharaan dan bahan bakar.

Di Qatar, Iran menyerang Pangkalan Udara Al Udeid, markas udara regional Komando Pusat AS, sehingga merusak sistem radar peringatan dini. Di Bahrain, drone Iran menyerang peralatan komunikasi di markas besar Armada Kelima AS.

Di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, rudal dan drone Iran merusak peralatan komunikasi dan beberapa kapal tanker pengisian bahan bakar.

Sedangkan kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak melancarkan serangan drone di sebuah hotel kelas atas di Erbil pada awal perang.

Salah satu masalah bagi Pentagon adalah perang selama dua dekade di Irak dan Afghanistan – zona perang di mana Amerika Serikat dengan cepat membangun superioritas udara – membuat militer mempunyai fasilitas dan markas besar yang dekat dengan garis depan saat ini.

Meskipun Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan dan Kedutaan Besar AS di Bagdad, misalnya, sering menjadi sasaran bom bunuh diri dan serangan lainnya, baik Taliban maupun milisi Irak tidak memiliki kemampuan rudal balistik seperti yang dimiliki Iran.

Khususnya selama perang di Irak, Amerika Serikat membangun pangkalannya di sana dan di Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Kini, perang di Iran telah membuat semua pangkalan tersebut rentan – sampai pada titik di mana anggota militer tidak dapat tinggal atau bekerja di sana untuk waktu yang lama, kata para pejabat militer.

Kurangnya perencanaan yang lebih baik, kata beberapa pejabat militer, juga mencerminkan kesalahan perhitungan pemerintah mengenai bagaimana Iran akan merespons.

BACA JUGA: Dua Warga Tangerang Dievakuasi dari Iran

Pemerintahan Trump tidak mengurangi staf di kedutaan besar Amerika dan fasilitas lain di wilayah tersebut sebelum perang dimulai, atau memerintahkan pemberangkatan pegawai pemerintah dan anggota keluarga yang tidak penting. Departemen Luar Negeri AS juga tidak memperingatkan warga Amerika untuk menjauhi wilayah tersebut sampai perang dimulai.

Dua mantan pejabat AS yang diberi pengarahan mengenai operasi militer mengatakan tidak ada atap yang diperkuat di pusat komando di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, di mana satu anggota militer tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Para pejabat militer mengatakan bahwa pesawat tanker pengisi bahan bakar Amerika dilarikan ke medan perang dengan sedikit waktu untuk melakukan orientasi atau berlatih di wilayah tersebut sebelum diikutsertakan dalam operasi sepanjang waktu. Dua pesawat tanker KC-135 Amerika bertabrakan bulan ini, menyebabkan kematian enam anggota militer. Juru bicara Komando Pusat mengatakan insiden itu sedang diselidiki.

Iran Tuding AS Gunakan Tameng Warga Sipil dengan Merelokasi Tentara ke Hotel

Korps Garda Revolusi Islam Iran telah mendesak masyarakat untuk melaporkan lokasi-lokasi mengungsi tentara AS saat mereka memburu pasukan yang tersebar. Para pejabat militer AS mengatakan ancaman tersebut tidak menghentikan Pentagon untuk melancarkan perang melawan Iran, yang sudah memasuki minggu keempat.

“Sampai saat ini, kami telah mencapai lebih dari 7.000 sasaran di seluruh Iran dan infrastruktur militernya,” kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth pekan lalu. Dia kemudian mengulangi apa yang sudah menjadi pernyataan umum dalam konferensi persnya: “Hari ini akan menjadi paket serangan terbesar, sama seperti kemarin.”

Namun relokasi pasukan ke lokasi sementara–seorang pejabat menyebutnya sebagai “alternatif”–menimbulkan pertanyaan tentang persiapan pemerintahan Trump untuk perang tersebut.

Terdapat hampir 40.000 tentara AS di wilayah tersebut ketika perang dimulai, dan Komando Pusat telah membubarkan ribuan tentara, beberapa di antaranya hingga ke Eropa, kata para pejabat militer Amerika.

Namun banyak dari mereka yang tetap tinggal di Timur Tengah, meski tidak di basis aslinya, kata para pejabat militer. Dampaknya, menurut para pejabat dan mantan pejabat militer, adalah perang yang jauh lebih sulit untuk dilakukan.

“Ya, kami memiliki kemampuan untuk mendirikan pusat operasi yang tepat, tetapi Anda pasti akan kehilangan kemampuan,” kata Sersan Utama Wes J Bryant, pensiunan spesialis penargetan Operasi Khusus di Angkatan Udara AS.

“Sebagai contoh, Anda tidak bisa meletakkan semua peralatan itu begitu saja di atas hotel. Beberapa di antaranya sulit digunakan.” Seorang pejabat militer AS mengatakan bahwa pasukannya tidak bekerja dari atap hotel sipil.

Terkait relokasi ini, para pejabat Iran menuduh militer AS menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia dengan menempatkan pasukan Amerika di hotel. “Kami terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan orang-orang Amerika,” kata badan intelijen Korps Pengawal Revolusi Islam dalam pesannya kepada masyarakat di wilayah tersebut, menurut Kantor Berita Tasnim.

“Oleh karena itu, lebih baik mereka tidak berlindung di hotel dan menjauh dari lokasi mereka.” Pesan tersebut menambahkan bahwa “adalah kewajiban Islam Anda untuk secara akurat melaporkan tempat persembunyian teroris Amerika dan mengirimkan informasinya kepada kami melalui Telegram,” sebuah aplikasi media sosial.

BACA JUGA: Dua Warga Tangerang Dievakuasi dari Iran

Meskipun ada kampanye udara yang berat, Iran “masih mempertahankan beberapa kemampuan,” Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, mengakui dalam konferensi pers Pentagon pekan lalu.

Jenderal Caine mengatakan bahwa “pertahanan berlapis di seluruh wilayah” memungkinkan Amerika Serikat untuk melindungi pasukan dan kepentingannya, namun Pentagon berusaha untuk meningkatkan pertahanan di wilayah tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membungkam negara-negara Teluk yang kian risau dengan serangan balasan Iran ke pangkalan militer dan aset AS di wilayah mereka. Ia mengungkapkan, salah satu negara Teluk itu jadi lokasi peluncuran rudal Tomahawk yang menewaskan ratusan murid di sekolah putri di Minab.

Hal ini ia sampaikan dalam wawancara dengan India Today yang dilansir Rabu. Jawaban tersebut dia sampaikan menjawab pertanyaan apakah Iran mengetahui dari mana rudal yang menghantam sekolah putri di Minab dan menewaskan sekitar 170 orang, kebanyakan anak-anak.

“Rudal itu diluncurkan darisalah satu negara di kawasan ini. Dua rudal Tomahawk menghantam sekolah dasar ini dalam waktu 14 menit satu sama lain- jelas dimaksudkan untuk memaksimalkan korban jiwa. Ini adalah kejahatan perang,” kata dia.

Namun lebih jauh, ia menahan diri dari menyebut nama negara tersebut. “Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa hal itu disengaja dan direncanakan, dilakukan oleh Amerika Serikat. Saya memilih untuk tidak menyebutkan nama negaranya.”

Ia juga menyatakan, jelas sekali bahwa sebagian besar serangan AS dilancarkan dari pangkalan militer dan aset mereka di wilayah negara-negara Teluk. “Presiden Trump sendiri mentweet tentang pesawat tanker yang ditempatkan di pangkalan militer di Arab Saudi,” ujarnya.

Ia juga mengatakan rudal yang menghantam fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm berasal dari salah satu negara Teluk Persia. “Saya berharap negara-negara di kawasan ini tidak membiarkan kehadiran militer AS, karena hal ini kini terbukti menjadi sebuah beban dan bukan sumber keamanan atau stabilitas. Berdasarkan hukum internasional, pilihan lain apa yang kami punya selain melawan?”(ALD)

sumber: republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *