SERANG.INTTI.ID – Komunitas Soedirman 30 memprotes keras rencana pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi per 1 April 2026 yang dibatalkan. Kebijakan ini dinilai mencekik rakyat Banten yang baru saja merogoh kocek dalam untuk kebutuhan Lebaran.
Koordinator Umum Komunitas Soedirman 30, Bento mengatakan, ada tiga masalah utama bila kenaikan harga BBM ini benar-benar terjadi. Yakni Negara mengambil untung dari rakyat lewat harga BBM naik, pajak (PPN) yang diambil negara ikut membengkak.
“Di saat rakyat kesulitan, kas negara justru menebal,” katanya, dalam keterangan, Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut, ini juga akan mengancam Banten dalam kondisi kelaparan, sebab 82 persen kebutuhan pangan Banten didatangkan dari luar daerah. Jika harga Dexlite tembus Rp23.650, biaya angkut barang otomatis naik.
“Hasilnya? Harga beras, cabai, dan daging di pasar pasti meroket,” ujarnya.
Tak hanya itu, antrean panjang juga akan kembali terjadi, apalagi selisih harga yang sangat jauh antara Pertamax dan Pertalite akan membuat pengguna pindah ke BBM subsidi. Siap-siap, SPBU di Banten akan dikepung antrean panjang dan kelangkaan stok.
“Kita Kaya Energi, Tapi Rakyat Diperas,” tegasnya.
Bento juga menyebut Indonesia gagal mengelola kekayaan alamnya.
“Kita punya minyak mentah tapi dijual murah ke luar negeri, lalu kita beli lagi dalam bentuk BBM jadi dengan harga mahal. Ini kesalahan manajemen yang korbannya adalah rakyat kecil,” tuturnya.(*)
Sumber: Banten Ekspres.co.id










