TANGERANG, INTTI.ID – Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, menjadi salah satu kawasan terparah yang dilanda banjir awal tahun 2026. Meski mulai surut, namun warga korban banjir di Perumahan Periuk Damai RW 08 hingga kini masih bertahan di pengungsian.
Puluhan kepala keluarga (KK) hingga Minggu (25/1/2026) masih bertahan di tenda darurat pelataran Masjid Jami Al Jihad, Perumahan Periuk Damai. Mereka masih enggan kembali ke rumah lantaran khawatir terjadi banjir susulan.
Sejak banjir melanda kawasan tersebut pada awal tahun, masjid menjadi ruang aman sementara bagi warga Periuk Damai yang rumahnya tenggelam hingga nyaris setinggi atap. Warga berharap pemerintah daerah memberikan solusi bagi penangan banjir yang berulang setiap tahunnya itu.
BACA JUGA: Korban Banjir di Desa Cirumpak Kecamatan Kronjo Tidur di Jalan
Kekecewaan warga kian menjadi ketika Gubernur Banten Andra Soni batal meninjau banjir di Kecamatan Periuk, Sabtu, (24/1/2026). Padahal warga sudah menunggu sejak pagi untuk menyampaikan usulan dan keluhan kepada gubernur.
“Katanya mau datang jam sembilan, tapi gak datang-datang tanpa alasan. Kami sudah siapkan pertanyaan, siapkan usulan,” ungkap Heribertus, warga korban banjir Periuk Damai kepada wartawan.
Heribertus menyebut, setiap kali banjir datang, bantuan darurat mengalir. Namun solusi permanen tidak pernah terealisasikan. Jadi tidak heran Heribertus menyebut jika warga Periuk selama ini merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.
“Jujur kami kecewa. Persoalan banjir terus berulang lintas kepemimpinan. Dari zaman Pak Wahidin Halim sampai sekarang, belum ada realisasi nyata. Padahal ini bukan soal janji, kami cuma minta solusi,” ketusnya.
Bagi Heribertus dan ratusan warga RW 08, kedatangan gubernur dinilai penting karena akar persoalan banjir di Periuk berada di bawah kewenangan Pemprov Banten. Mulai dari pengelolaan Situ Bulakan hingga peninggian akses jalan yang setiap tahun terendam banjir.
“Kami tidak minta macam-macam. Kami ingin gubernur hadir. Bukan cuma datang saat banjir, tapi menyelesaikan supaya banjir itu tidak datang lagi,” ujar Heribertus yang juga Ketua RW 08 Periuk Damai tersebut.
Heribertus mengakui sebagian besar warganya belum berani kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka bertahan di masjid. Mulai lansia, ibu rumah tangga, hingga anak-anak mengungsi ke masjid dengan membawa barang seadanya.
“Air sudah turun sekitar satu meter. Tapi kami belum berani kembali ke rumah, khawatir banjir lagi,” ujar Heribertus seraya menyebut ketinggian banjir di perumahannya mencapai 4,5 meter. “Mudah-mudahan pompa lancar membuang air ke danau,” imbuhnya.
BACA JUGA: Warga Korban Banjir di Tangerang Diminta Waspada Kencing Tikus
Heribertus menilai banjir di Periuk Damai merupakan siklus berulang yang selalu datang saat curah hujan tinggi, terutama ketika debit air dari kali meluap dan tidak tertampung. Terlebih Perumahan Periuk Damai, dikenal sebagai kawasan cekungan.
Warga menyebut, setiap lima tahun sekali banjir besar datang dengan ketinggian ekstrem. Tahun ini menjadi banjir yang terparah. “Kalau dibandingkan banjir 2020–2021, ini lebih parah. Dulu banjir tidak sampai plafon. Sekarang nyaris nyampe atap,” keluhnya.
Menurut catatan warga, banjir terdalam sebelumnya terjadi pada periode 2017–2019, ketika ketinggian air menembus hampir 5,5 meter. Tahun ini, air mencapai sekitar 4,5 meter—cukup untuk melumpuhkan aktivitas dan memaksa ratusan keluarga mengungsi.
Di RW 08, terdapat 286 KK dengan sekitar 860 jiwa, terdiri atas 136 lansia dan sekitar 40 balita. Dari jumlah itu, sekitar 85 persen warga mengungsi, sementara sisanya menumpang di rumah kerabat atau lokasi pengungsian lain di RW 09 dan fasilitas umum.
Banjir kali ini diperparah jebolnya tanggul yang memisahkan RW 08 dengan RW 11 dan RW 13. Debit air yang tinggi dan arus balik dari saluran lain membuat tanggul roboh. Upaya perbaikan parsial, menurut warga, justru menimbulkan pemborosan karena tidak menyentuh akar masalah.
Warga meyakini banjir di perumahannya akibat pendangkalan Situ Bulakan, sehingga daya tampungnya menjadi berkurang. “Kami cuma minta Situ Bulakan dikeruk dan jalannya ditinggikan,” kata Heribertus.
Pengerukan danau merupakan kewenangan Pemprov Banten. Heribertus menyebut usulan pengerukan dan peninggian jalan telah berulang kali diajukan melalui Musrenbang, baik di tingkat RW, kelurahan, hingga kecamatan. Namun hingga banjir berulang awal 2026 ini, usulan tersebut tak pernah terealisasi.
Kondisi jalan di sekitar danau juga menjadi sorotan. Setiap hujan deras, akses warga ke wilayah sekitar, termasuk ke arah kabupaten, terputus karena genangan. Warga berharap Pemkot Tangerang dan Pemprov Banten memperbaiki infrastruktur secara menyeluruh.
BACA JUGA: Awas, Tol Tangerang-Merak Rawan Aquaplaning
Sementara itu, Pemkot Tangerang sudah turun ke lokasi. Petugas menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, selimut, mi instan, minyak, air minum, hingga pelayanan kesehatan bagi warga di pengungsian.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mencatat, banjir akibat hujan deras sejak Kamis (22/1/2026) pukul 05.20 WIB merendam sedikitnya 15 titik jalan dan permukiman, terutama di Kecamatan Periuk.
Jumlah pengungsi mencapai 5.030 jiwa pada 23 Januari, turun menjadi 4.195 jiwa pada 24 Januari, dan 2.206 jiwa per 25 Januari menyusul surutnya genangan. BPBD bersama dinas terkait menyiagakan posko pengungsian, dapur umum, layanan kesehatan, serta perahu karet untuk evakuasi.
Petugas juga melakukan penyedotan genangan dan pembersihan fasilitas umum. Meski debit air mulai menurun, BPBD tetap mengimbau warga waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat cuaca masih belum bersahabat.(Ald)
sumber: satelitnews















