Budaya

Ritual Ceng Beng di Kuburan Cina Bawa Berkah Bagi Warga Tangerang

Avatar photo
2
×

Ritual Ceng Beng di Kuburan Cina Bawa Berkah Bagi Warga Tangerang

Sebarkan artikel ini
Ritual Ceng Beng di Kuburan Cina Bawa Berkah Bagi Warga Tangerang
Warga Tionghoa menggelar ritual Ceng Ben di Pekuburan Cina Tanah Cepe, Karawaci, Kota Tangerang.

TANGERANG, INTTI.ID – Ribuan warga Tionghoa memadati kawasan pemakaman Sentiong Tanah Cepe atau yang dikenal dengan sebutan Kuburan Cina di Karawaci, Kota Tangerang, Banten. Mereka datang untuk melaksanakan tradisi ziarah tahunan Ceng Beng.

Dalam ritual tahunan tersebut, mereka membawa berbagai sesaji khas Tionghoa, seperti Sam Seng dan membakar uang kertas. Ritual Ceng Beng ini menjadi simbol bakti kepada leluhur mereka yang telah tiada.

Advertising
banner 425 x 400
Baca Artikel Scroll ke Bawah

Tak hanya sebagai ritual keagamaan, momentum ini juga menjadi berkah nyata bagi warga sekitar yang menggantungkan hidup sebagai perawat makam.

BACA JUGA: Truk Wisatawan Nyaris Ditelan Laut Pasang di Pantai Bagedur

Gema doa dan aroma dupa menyelimuti komplek pemakaman Tanah Cepe. Warga Tionghoa datang membawa persembahan wajib berupa Sam Seng, yakni tiga jenis hewan darat, air, dan udara.

Bebawaan tersebut disimbolkan melalui ayam, babi, serta ikan.Tidak ketinggalan, teh, arak, dan buah-buahan tersaji rapi di depan nisan leluhur.

Ritual berlanjut dengan pembakaran uang kertas dan berbagai replika barang dari kertas. Ini merupakan simbol pembekalan agar arwah leluhur mendapatkan ketenangan dan kecukupan di alam sana.

Seorang penziarah bernama Tomi mengatakan, sembahyang leluhur ini sudah menjadi tradisi turun temurun bagi warga Tionghoa.

“Kami dari Jakarta dan keluarga lainnya berkumpul mendo’akan leluhur, jadi tempat silahturahmi semua saudara,” katanya.

BACA JUGA: Warga Tangerang Diminta Waspada Penyakit Pasca Lebaran

Bagi warga lokal, Ceng Beng adalah hari yang paling dinanti. Seperti Emun, seorang perawat makam yang telah bertahun-tahun menjaga keasrian nisan di sini.

Baginya, momen ini adalah waktu ‘gajian’ tahunan, di mana ia menerima upah tetap serta persenan tambahan dari para ahli waris makam yang merasa puas dengan jasanya.

“Setiap tahun ramai, ahli waris makam semua datang, dan yang merawat makam diberi gaji tahunan, bukan hanya ahli waris, semua penziarah yang datang memberi persenan pada ibu” katanya.(ABE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *