SERANG.INTTI.ID–Sudah sejak Senin (26/1) hingga Selasa (27/1), Ratusan pedagang daging sapi menggelar aksi mogok berjualan. Mogok jualan pedagang daging sapi yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (Gappenda) Provinsi Banten ini, sebagai bentuk protes terhadap lonjakan harga daging sapi yang terus meroket sejak akhir tahun lalu.
Ketua Gappenda Banten, Aeng Khaeruzzaman menegatakan, harga daging sapi hidup saat ini sudah mencapai Rp56.000 per kilogram, padahal harapan pedagang, harga berada pada Rp52.000 per kilogram. Jika pemerintah tidak turun tangan, kami memprediksi harga daging akan terus melonjak naik saat memasuki bulan Ramadan nanti
Aeng menjelaskan, tingginya harga sapi hidup memaksa pedagang menaikkan harga jual ke konsumen menjadi Rp135.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp125.000 per kilogram.
Lantaran harganya yang tinggi, para pedagang daging sapi di Pasar Induk Rau, Kota Serang, memilih menghentikan aktivitas jual beli, Selasa (27/1). Sejumlah lapak daging di pasar tersebut tampak tutup dan tidak beroperasi. Kondisi ini berbeda dari hari biasa, di mana lapak pedagang dipenuhi daging segar untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Aksi mogok pedagang daging di Pasar Induk Rau ini merupakan imbas dari gelombang protes serupa yang sebelumnya terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan wilayah Jabodetabek. Pedagang di Kota Serang menilai persoalan kenaikan harga sapi potong bukan semata isu lokal, melainkan masalah rantai pasok nasional yang berdampak langsung hingga ke pasar daerah.
Menanggapi aksi tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Dinkopukmperindag) Kota Serang, Wahyu Nurjamil menjelaskan, kenaikan harga bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan dampak menguat nya nilai tukar mata uang Australia. Dia mengaku, pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Banten telah melayangkan surat ke pemerintah pusat untuk meminta intervensi Kementerian Pertanian (Kementan).
“Sudah diupayakan ada intervensi dari Kementan untuk mengeluarkan stok lama agar bisa disalurkan ke masyarakat. Mudah-mudahan harga kembali stabil di kisaran Rp130.000 per kilogram dan pedagang bisa berjualan kembali,” kata Wahyu seperti dilansir Antaranews.co.id.(*)
Sumber: Antaranews









