Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Budaya

Tangerang Ngebesan 2026, Antar Owen dan Michelle ke Pelaminan Rakyat

Avatar photo
12
×

Tangerang Ngebesan 2026, Antar Owen dan Michelle ke Pelaminan Rakyat

Sebarkan artikel ini
Tangerang Ngebesan 2026, Antar Owen dan Michelle ke Pelaminan Rakyat
Michelle dan Owen menjdi peserta Tangerang ngebesan pertama dari kalangan non muslim, Kamis (12/2/2026).

TANGERANG, INTTI.ID – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Banten menggelar Acara Tangerang Ngebesan 2026. Even ini merupakan resepsi pernikahan massal dalam menyambut HUT ke 33 Kota Tangerang.

Sebanyak 106 pasangan pengantin baru dari seluruh penjuru Kota Tangerang datang untuk meramaikan even yang berlangsung di Plaza Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangerang, Kamis ( 13/2/2026).

Advertising
banner 425 x 400
Baca Artikel Scroll ke Bawah

Tangerang Ngebesan 2026 mengusung budaya Betawi, seperti ngerudat atau menyalakan petasan renteng, palang pintu, adu pantun, dan musik tradisional gambang kromong.

Ratusan pasang mata berbinar menyatu dalam pesta cinta dan pengesahan pernikahan. Pasangan pengantin melangkah ke pelaminan rakyat dengan melepaskan senyum sumringah, dan disambut tepukan tangan dari para pengiringnya.

BACA JUGA: Ribuan Warga Padati Tangerang Bersholawat di Taman Elektrik

Owen (28) dan Michelle (23), menjadi pasangan non muslim kali pertama yang meramaikan Tangerang Ngebesan 2026. Pasangan pengantin baru dari Kecamatan Cipondoh itu, tak lepas dari senyum yang sulit disembunyikan.

Mereka baru sebulan menikah, tepatnya 18 Januari lalu. Masih hangat janji yang diucap, masih segar kenangan akad dan restu keluarga. Ketika kabar tentang Tangerang Ngebesan sampai ke telinga, mereka tak ragu untuk mendaftar menjadi peserta.

Kita ikut yuk beb. Setelah itu kami proses sampai akhirnya membawa kami sampai sini. Ini pengalaman besar buat kami,” ujar Owen menceritakan awal mulai ketertarikannya mengikuti Tangerang Ngebesan, Kamis (12/2/2026)

Bagi Owen dan Michelle, Tangerang Ngebesan bukan sekadar acara pemerintah. Ia adalah resepsi kedua, resepsi yang dirayakan bersama rakyat se-Kota Tangerang.

Iring-iringan adat, musik tradisional, pelaminan, foto booth, tawa para tamu, dan wajah-wajah bahagia yang tak saling mengenal, semuanya menjelma satu suasana, yaitu hangat dan manusiawi.

“Seru, asik, amazing dan berkesan bagi semua pasangan pengantin di Ngebesan, ” ucap Owen dengan senyum sumringah.

Michelle pun merasakan kebahagian yang sama. Di tengah riuh pesta, ia merasa kembali menjadi pengantin untuk kedua kalinya. Gaun, rias, pelaminan, dan tepuk tangan. Semuanya hadir tanpa harga, tanpa syarat, selain satu cinta yang sudah sah.

“Benar-benar bahagia, resepsi kami kali ini didatangi banyak pejabat. Happy dan terima kasih atas kesempatan untuk kami pasangan Tionghoa ini,” tuturnya.

BACA JUGA: Human Error Dominasi Kasus Laka Kerja di Banten

Tahun ini, Tangerang Ngebesan membuka pintu lebih lebar. Tak hanya untuk pasangan muslim, tetapi juga bagi pasangan non muslim. Dari 106 pasang pengantin, 9 di antaranya berasal dari latar agama yang berbeda.

Owen dan Michelle berdiri, sebagai bagian dari cerita tentang kota yang belajar merangkul semua. “Fasilitasnya luar biasa. Kami merasa diperhatikan. Negara hadir tanpa membedakan latar untuk bahagia bersama,” katanya.

Kini, mereka tinggal di kawasan Cipondoh, menjalani hari-hari sebagai pasangan muda yang sama-sama bekerja dan saling belajar. Tangerang Ngebesan akan selalu menjadi satu kenangan yang tak terganti. Hari ketika cinta mereka dirayakan oleh banyak orang yang bahkan tak mereka kenal.

Di pelaminan rakyat itu, Owen dan Michelle belajar tentang pernikahan bukan hanya tentang dua orang. Melainkan ruang yang dibuka bersama. Tentang negara memeluk warganya, dan tentang kota yang ikut tersenyum merayakan pertemuan cinta para pasangan bahagia tersebut.(ABE/ALD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *