TANGERANG, INTTI.ID – Warga Kabupaten Tangerang diminta untuk waspada dengan ancaman berbagai penyakit yang mengikuti bencana banjir. Salah satunya penyakit yang disebabkan dari kencing tikus atau leptospirosis.
Peringatan itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi kepada wartawan Kamis (22/1/2026). Hendra menyebut, genangan air atau banjir biasanya menjadi wadah bagi penyebaran bibit penyakit, seperti gatal dan lainnya.
“Yang paling kami khawatirkan saat banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini bisa masuk ke tubuh melalui luka, terutama pada bagian kaki,” kata Hendra Tarmizi.
BACA JUGA: Desa Lemo Teluknaga Tangerang Kembali Terendam
Curah hujan tinggi yang mengguyur sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 ini, menyebabkan sejumlah kawasan Kabupaten Tangerang terendam banjir. Banjir melanda permukiman di Kosambi, Pakuhaji, dan Jayanti.
Hendra Tarmizi mengatakan, meski debit banjir berangsur surut, namun resiko gangguan kesehatan tetap harus diantisipasi, terutama leptospirosis.
“Ketika banjir mulai mereda, kebersihan lingkungan harus segera dilakukan untuk mencegah munculnya leptospirosis,” ujarnya.
Hendra menjelaskan, leptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang menyebar melalui urine atau darah atau kencing hewan yang terinfeksi, seperti tikus, anjing, dan babi.
Bakteri tersebut dapat mencemari air genangan dan tanah, sehingga berisiko masuk ke tubuh manusia melalui kontak langsung, terutama jika terdapat luka terbuka.
“Penyakit ini berasal dari kotoran atau kencing hewan seperti tikus. Saat banjir, air yang tercemar bisa mengenai kaki atau bagian tubuh lain yang terluka, dan bakteri masuk melalui luka tersebut,” jelasnya.
Selain leptospirosis, masyarakat juga diminta mewaspadai penyakit lain yang kerap muncul pascabanjir, seperti penyakit kulit dan demam berdarah dengue (DBD).
BACA JUGA: Pedagang Daging Sapi di Tangsel Stop Jualan
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kabupaten Tangerang telah melakukan monitoring dan pemeriksaan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak.
“Hingga saat ini belum ditemukan kasus penyakit kulit, leptospirosis, maupun DBD pada warga yang terdampak banjir,” ungkapnya.
Untuk diketahui, bencana banjir awal tahun 2026 melanda 24 kecamatan dan 119 desa/kelurahan di Kabupaten Tangerang. Banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi serta meluapnya aliran sungai ke permukiman warga.
Banjir terparah melanda kawasan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti. Kemudian, Kecamatan Kosambi, Teluknaga dan Kecamatan Pakuhaji. Saat ini, banjir masih melanda, meski sebagian mulai surut.(Ald)
sumber: satelitnews















