Regional

Pemkot Tangerang Ajak Pengusaha Keruk Sungai Cisadane

Avatar photo
4
×

Pemkot Tangerang Ajak Pengusaha Keruk Sungai Cisadane

Sebarkan artikel ini
Pemkot Tangerang Ajak Pengusaha Keruk Sungai Cisadane
Pintu Air 10 menjadi prioritas dalam pelaksanaan proyek PPP, Senin (21/9/2026).

TANGERANG, INTTI.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane tengah bersiap melakukan pengerukan Sungai Cisadane, khususnya di sekitar Bendungan Pintu Air 10.

Normalisasi dilakukan untuk mengangkat sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan sungai. Selain meningkatkan kapasitas aliran sungai, pengerukan tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air baku sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi musim hujan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni kepada wartawan Senin (21/9/2026) mengatakan, rencana pengerukan Pintu Air 10 menjadi salah satu prioritas yang telah dibahas bersama BBWS Ciliwung-Cisadane.

BACA JUGA: Suahasil Nazara Gantikan Purbaya Jadi Menteri Keuangan

Menurut Taufik, Pemkot Tangerang juga mengajak perusahaan yang selama ini mengambil air baku dari Sungai Cisadane untuk turut terlibat dalam upaya menjaga kondisi sungai. Langkah tersebut, bukan semata bentuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan bagian dari tanggung jawab perusahaan yang memanfaatkan sumber air baku dari Sungai Cisadane.

“Sebagai bentuk tanggung jawab pengusaha bagaimana menjaga Sungai Cisadane. Mereka juga butuh air bakunya,” ujarnya.

Taufik menyebut, sejumlah perusahaan telah diajak berkomunikasi terkait rencana tersebut. Salah satunya PT Indotaes yang saat ini telah menurunkan alat berat untuk membantu proses pengerukan.

“Untuk menjaga kapasitas hidrolis sungai, kami mengajak perusahaan-perusahaan yang mengambil air di Cisadane untuk bisa melakukan normalisasi,” katanya.

Taufik juga menambahkan, pengerukan sedimentasi di sekitar Bendung Pasar Baru tidak hanya berkaitan dengan pengendalian banjir. Normalisasi juga diperlukan untuk memastikan air dapat masuk ke saluran intake yang digunakan untuk kebutuhan air baku.

Saat musim kemarau, sedimentasi membuat bagian bantaran dan alur sungai menjadi lebih dangkal. Kondisi tersebut dapat menyulitkan proses pengambilan air baku karena pompa harus ditempatkan lebih ke tengah sungai.

“Kalau musim kering, daerah bantaran sungai itu menjadi dangkal. Sempat dilakukan simulasi, kalau air makin menyusut, pompa itu harus disimpan ke tengah sungai. Supaya air bisa masuk ke intake mereka, harus dikeruk,” jelasnya.

Di sisi lain, pengerukan juga memiliki fungsi penting ketika memasuki musim hujan. Dengan sedimentasi yang dikurangi, kapasitas tampung dan aliran sungai diharapkan menjadi lebih besar sehingga dapat membantu mengurangi dampak banjir.

“Jadi dua fungsinya, menambah kapasitas air untuk air baku dan juga persiapan menghadapi musim hujan,” tutur Taufik.

Taufik mengatakan kondisi muka air Sungai Cisadane saat ini mulai mengalami kenaikan setelah hujan terjadi di wilayah hulu. Saat kunjungan Direktur Jenderal Sumber Daya Air bersama Pelaksana Tugas Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, muka air tercatat meningkat dari sekitar 11,4 menjadi 11,9 meter.

Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan curah hujan di wilayah hulu, termasuk Jawa Barat dan Tangerang Selatan. Terkait kemungkinan kenaikan muka air tersebut merupakan dampak dari pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC), Taufik mengaku belum dapat memastikan.

“Saya kurang paham apakah itu hasil dari TMC atau memang siklus. Kita hanya membaca situasi BMKG bahwa sepekan ke depan wilayah Jawa Barat, Banten, dan DKI akan hujan,” katanya.

Selain Sungai Cisadane, Dinas PUPR Kota Tangerang juga terus melakukan normalisasi sejumlah saluran dan kali untuk meningkatkan kapasitas aliran air. Taufik menyebut, normalisasi saat ini antara lain dilakukan di kawasan Serua, Kali Lendu, Kali Angke, dan Mutiara Pluit.

Pemkot Tangerang juga tengah menyiapkan normalisasi di sejumlah lokasi lain, di antaranya Simprug, Poris, dan Cipondoh.

“Semua diupayakan sampai akhir tahun ini bisa normalisasi dengan alat berat. Kalau program manual, sudah rutin. Tapi dengan alat berat kami upayakan untuk bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Menurut Taufik, normalisasi menjadi salah satu langkah jangka pendek yang dinilai dapat dilakukan secara cepat untuk mengembalikan kapasitas saluran air. Pasalnya, sedimentasi merupakan persoalan yang terus muncul hampir setiap tahun meskipun pemeliharaan dilakukan secara rutin.

“Sedimentasi terjadi setiap tahun. Tidak hanya sedimentasi, mungkin juga sampah,” katanya.

Karena itu, pengembalian kapasitas sungai dan saluran air melalui pengerukan diharapkan dapat meningkatkan daya tampung dan memperlancar aliran air ketika curah hujan meningkat.

“Dengan mengembalikan fungsi kapasitas, insyaallah mudah-mudahan daya tampungnya menjadi lebih besar. Mudah-mudahan itu bisa mengurangi dampak banjir,” ujar Taufik.(*)

sumber: satelitnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *