JAKARTA, INTTI.ID – Hidup di Ibu Kota Jakarta tak seindah yang dibayangkan. Kalau tidak pandai menyiasati, harus siap menanggung beban hidup yang cukup kompleks. Bagi yang kuat finansialnya mungkin bisa bertahan, namun bagi yang ekonomi pas pasan, lebih memilih hengkang dari ibu kota.
Nah dari catatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta, sebanyak 22.617 warga diketahui telah keluar meninggalkan ibu kota pasca Lebaran 2026. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah pendatang baru yang masuk ke Jakarta pada periode yang sama, yakni 12.766 jiwa.
Kepala Disdukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto mengatakan, kondisi ini menjadi fenomena yang menonjol dalam arus mobilitas penduduk tahun ini. Ia menyebut, selain faktor administratif, pergeseran ini juga dipengaruhi dinamika sosial ekonomi masyarakat.
BACA JUGA: BPS Sebut Kota Serang Jadi Destinasi Baru Migrasi di Banten
“Banyak warga yang sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, namun masih menggunakan KTP-el (elektronik) Jakarta. Melalui program ini, mereka melakukan penyesuaian administrasi kependudukan agar sesuai dengan domisili sebenarnya,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Biaya Hidup Meningkat
Di sisi lain, meningkatnya biaya hidup di Jakarta turut menjadi faktor pendorong perpindahan. Kenaikan harga hunian, kebutuhan sehari-hari, hingga tekanan biaya transportasi membuat sebagian warga memilih menetap di wilayah penyangga yang dinilai lebih terjangkau.
“Biaya hidup di Jakarta yang semakin tinggi membuat banyak warga memilih untuk bergeser ke kota penyangga seiring dengan munculnya pusat-pusat industri dan ekonomi baru di luar Jakarta,” jelasnya.
Warga yang Keluar Didominasi Usia Produktif
Data Dukcapil menunjukkan mayoritas warga yang keluar berasal dari kelompok usia produktif, yakni sebesar 71,57 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 64,53 persen merupakan masyarakat berpenghasilan rendah, dengan alasan utama perpindahan didominasi faktor perumahan sebesar 33,92 persen.
“Di mana profil ini ‘mirroring’ dengan profil warga yang masuk ke Jakarta namun dengan alasan terbanyak adalah keluarga sebesar 33,72 persen,” katanya.
Pindah dari Jakarta karena Polusi dan Macet
Selain faktor ekonomi, kualitas hidup juga menjadi pertimbangan. Isu polusi udara, kemacetan, serta risiko banjir mendorong warga mencari lingkungan yang dianggap lebih nyaman.
“Kualitas hidup terkait isu polusi udara, kemacetan, dan risiko banjir mendorong warga mencari alternatif tempat tinggal di daerah yang dianggap lebih ‘hijau’ namun tetap terhubung dengan akses transportasi publik seperti LRT, MRT dan KRL,” katanya.
Fenomena ini mencerminkan tren deurbanisasi di Jakarta, yakni pergeseran penduduk dari pusat kota ke wilayah penyangga. Meski demikian, Jakarta tidak kehilangan peran sebagai pusat ekonomi, melainkan mengalami perubahan pola hunian dan aktivitas masyarakat yang semakin terhubung dalam kawasan aglomerasi.(ALD)
sumber: IDN Times








