Info Dunia

Vera Çelik, Perempuan Anggota Dewan Berhijab Pertama di Zurich Swiss

Avatar photo
3
×

Vera Çelik, Perempuan Anggota Dewan Berhijab Pertama di Zurich Swiss

Sebarkan artikel ini
Vera Çelik, Perempuan Anggota Dewan Berhijab Pertama di Zurich Swiss
Vera Celik terpilih sebagai anggota dewan kota Zurich Swiss pertama dari kalangan muslim.

ZURICH, INTTI.ID – Di tengah ketatnya perdebatan mengenai simbol keagamaan di jantung Eropa, sebuah kejutan besar muncul dari bilik suara di Zurich Swiss. Bukan politisi senior dengan setelan jas konvensional yang mencuri panggung, melainkan seorang asisten dokter gigi berusia 20 tahun yang berani mendobrak tradisi.

Kemenangannya bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah pernyataan keras bahwa wajah politik Swiss sedang mengalami transformasi besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Bagaimana Vera Çelik bisa menaklukkan ribuan suara di tengah meningkatnya sentimen anti-Muslim? Berikut perjalanan bersejarahnya.

Advertising
banner 425 x 400
Baca Artikel Scroll ke Bawah

Kemenangan Vera Çelik dalam pemilihan dewan kota di Zurich menandai tonggak penting bagi representasi politik minoritas dan kebebasan beragama di Swiss. Perempuan berusia 20 tahun keturunan Turki itu, menjadi anggota dewan kota pertama di Zurich yang mengenakan jilbab.

BACA JUGA: Iran Pertimbangkan Kirim Rudal ke Pangkalan Militer Inggris

Çelik terpilih dari Distrik ke-10 sebagai perwakilan Partai Sosial Demokrat Swiss (SP), dengan raihan 4.772 suara berdasarkan hasil resmi pemilihan pada Ahad. Saat ini, ia juga tengah menjalani pelatihan sebagai asisten dokter gigi, sebagaimana diberitakan Daily Sabah.

Kemenangan Çelik mendapat sorotan luas, baik di Swiss maupun di kalangan diaspora Turki. Banyak pihak melihatnya sebagai simbol kemajuan dalam partisipasi politik kelompok minoritas serta penguatan nilai keberagaman di tingkat lokal.

Dalam aktivitas politiknya, Çelik dikenal vokal mengangkat isu keadilan sosial dan diskriminasi. Ia secara konsisten menentang pembatasan penggunaan jilbab serta mengkritik meningkatnya sentimen anti-Muslim.

Di internal partainya, ia turut terlibat dalam perdebatan terkait kesetaraan di tempat kerja, termasuk advokasi yang berujung pada dukungan terhadap hak guru mengenakan jilbab di sekolah.

Selama beberapa tahun terakhir, Çelik juga aktif tampil di media Swiss, menyuarakan perlindungan terhadap perempuan Muslim dari kebijakan dan retorika yang dinilai diskriminatif. Kemenangannya pun disambut hangat komunitas Turki di Zurich sebagai langkah maju menuju representasi yang lebih inklusif.

Duta Besar Turki untuk Bern, Şebnem İncesu, secara langsung mengucapkan selamat kepada Çelik. Ia menyebut kemenangan ini sebagai “hadiah terbaik” menjelang Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Ucapan serupa juga disampaikan Konsul Jenderal Turki di Zurich, Fazlı Çorman.

Dewan kota di Swiss memiliki peran strategis dalam pemerintahan lokal, mencakup pengawasan kebijakan perencanaan kota, pendidikan, layanan sosial, hingga kebijakan masyarakat. Dengan posisi ini, kehadiran Çelik dinilai dapat membawa perspektif baru terkait isu keberagaman dan inklusi sosial.

Di Zurich sendiri, komunitas Muslim merupakan bagian signifikan dari populasi. Secara nasional, Muslim mencakup sekitar 5 persen dari total penduduk Swiss, dengan konsentrasi yang cukup besar di kota-kota besar seperti Zurich. Mayoritas berasal dari latar belakang migran, terutama dari Turki, Balkan, dan sebagian wilayah Timur Tengah.

Kehidupan beragama di Zurich secara umum dijamin oleh konstitusi Swiss yang menegaskan kebebasan beragama. Namun, dalam praktiknya, isu-isu seperti simbol keagamaan, termasuk jilbab, kerap menjadi perdebatan publik dan politik. Beberapa kebijakan di tingkat kanton bahkan pernah memicu kontroversi terkait pembatasan ekspresi keagamaan di ruang publik.

BACA JUGA: Menlu Iran Bilang ke Saudi: Saatnya Usir Tentara AS Sekarang!

Meski demikian, komunitas Muslim di Zurich terus memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi kota. Mereka aktif dalam berbagai sektor, mulai dari usaha kecil-menengah hingga profesi profesional, serta berkontribusi dalam dinamika multikultural yang menjadi ciri khas kota tersebut.

Kehadiran figur seperti Çelik di panggung politik lokal dinilai semakin memperkuat posisi komunitas Muslim sebagai bagian integral dari masyarakat Zurich. Selain itu, hal ini juga membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman di Swiss.(ALD)

sumber: republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *