JAKARTA, INTTI.ID – Kecaman terhadap perang Iran-AS-Israel datang dari pejabat pemerintahan dalam negeri Paman Sam sendiri. Wali Kota New York, Zohran Mamdani menyebut selain menimbulkan banyaknya korban jiwa, perang tersebut juga hanya merugikan finansial AS.
Mamdani bahkan menyebut AS menggelontorkan dana jumbo hanya untuk menyerang Iran dan sekutunya di Timur Tengah Seharusnya, kata dia, semua uang tersebut bisa dipakai untuk menjalankan program-program prioritas yang ada di AS.
“Kita sedang berbicara tentang perang yang telah menewaskan ribuan warga sipil. Hal-hal yang sering saya bicarakan dan sangat dibutuhkan oleh warga New York, hanya akan menelan biaya sebagian kecil dari puluhan miliar dolar untuk mendanai perang. Hal itu telah membuat kita semua frustrasi,” ujar Mamdani dalam wawancara bersama Al Jazeera, Jumat (10/4/2026), seperti dikutip Jerusalem Post, Sabtu (11/4/2026).
BACA JUGA: Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz
Oleh karena itu, Mamdani ingin perang antara AS dan Iran segera berakhir. Sebab, jika tidak, akan ada lebih banyak korban jiwa dan dana yang bakal terbuang sia-sia hanya untuk perang.
Selain itu, perang ini juga akan membuat upaya dehumanisasi di Timur Tengah makin merajalela.
“Inti dari setiap perang adalah dehumanisasi yang tidak pernah terbatas hanya pada perang itu sendiri. Itulah bentuk dehumanisasi yang kita biarkan berkembang di negara kita,” tegas Mamdani.
Ia menilai upaya dehumanisasi di Timur Tengah akibat perang di Iran juga akan merendahkan martabat AS di kancah internasional.
Sebetulnya, perang antara AS dan Iran sudah mereda. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026) lalu.
Gencatan senjata ini akhirnya disepakati usai AS dan Israel membombardir Iran sejak 28 Februari lalu.
BACA JUGA: Kapal Cina Terobos Blokade AS di Selat Hormuz
Gencatan senjata ini lantas disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, meski hanya bersifat sementara, gencatan senjata tersebut sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang agar tidak berlarut-larut.
Sayangnya, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut Iran, dokumen gencatan senjata yang diberikan AS sudah melibatkan Lebanon.
Israel sendiri kembali meluncurkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Dilansir The Guardian, serangan tersebut menewaskan lebih dari 300 orang. Sementara itu, 1.165 orang lainnya mengalami luka-luka.
Saat ini, seluruh korban luka sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, petugas layanan kesehatan mengalami kendala karena banyak rumah sakit di Lebanon yang rusak akibat diserang Israel.(ALD)
sumber: idntimes















