Info Dunia

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Jerman Salahkan Donald Trump

Avatar photo
5
×

Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Jerman Salahkan Donald Trump

Sebarkan artikel ini
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Jerman Salahkan Donald Trump
Pejalan kaki melintasi di bawah lukisan kapal di Selat Hormuz di Ibu Kota Iran, Teheran, Minggu (21/6/2026).

BERLIN, INTTI.ID — Menteri Pertahanan (Menhan) Jerman, Boris Pistorius menyalahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump atas penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran.

Teheran mengambil langkah tersebut karena meski mereka sudah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Washington, namun Israel mengabaikannya dengan tetap menyerang Lebanon.

Advertising
Baca Artikel Scroll ke Bawah

“Pada akhirnya kemacetan Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kita, tetapi kita memiliki kepentingan untuk membukanya kembali,” kata Pistorius dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi ARD di Berlin, Minggu (21/6/2026).

BACA JUGA: Piala Dunia 2026, Iran Dipaksa Tinggalkan AS Usai Duel Lawan Selandia Baru

Dia menekankan bahwa Eropa membutuhkan kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Hal itu karena selat tersebut merupakan salah satu nadi utama pengiriman minyak dan gas.

“Pembukaan Selat Hormuz, atau lebih tepatnya jalur aman melalui selat tersebut, adalah demi kepentingan Eropa, demi kepentingan pasokan energi dan pemulihan ekonomi kita,” kata Pistorius.

Menurut Pistorius, setiap kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz membutuhkan dukungan dari Iran dan Oman. Berlin diketahui telah berulang kali menjauhkan diri dari kampanye Trump melawan Iran.

Kendati demikian, para pejabat Jerman belum secara langsung menyalahkan AS atas konflik tersebut.

Sementara pada Minggu, kantor berita Iran, Tasnim mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi, melaporkan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati.

Sumber tersebut mengatakan, Selat Hormuz bakal tetap ditutup sampai izin yang memungkinkan penjualan minyak Iran diterbitkan.

Rezim Zionis Terus Melanggar Komitmen

Sementara itu, kantor berita Fars, mengutip sumber militer Iran, melaporkan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup. Fars menyebut, Korps Garda Revolusi Iran belum mengeluarkan izin bagi kapal mana pun untuk melintas hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa mereka tidak akan memasuki pembicaraan mengenai kesepakatan yang lebih luas dengan AS, kecuali perang di Lebanon berakhir.

“Tanpa implementasi ketentuan-ketentuan ini, terutama paragraf 1 (pengakhiran perang di semua front, termasuk Lebanon), memasuki fase negosiasi untuk kesepakatan akhir tidak mungkin,” tulis Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, lewat akun X-nya, Minggu.

Iran sebelumnya mengatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah akan menjadi agenda utama dalam pembicaraan dengan delegasi AS di Swiss.

“Rezim Zionis terus melanggar komitmennya di Lebanon, masalah ini akan menjadi topik utama diskusi dalam pembicaraan hari ini,” kata Esmaeil Baqaei dalam sebuah video yang dibagikan oleh kantor berita milik pemerintah Iran, IRNA.

Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Hal itu menyusul serangan Israel ke Lebanon.

Padahal pada Kamis (18/6/2026), Iran mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan dengan AS guna mengakhiri konflik di antara mereka yang dimulai pada akhir Februari 2026.

BACA JUGA: Kementerian LH Segel Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang

Dalam kesepakatan tersebut, terdapat klausul bahwa kesepakatan gencatan senjata harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon.

Namun Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 lalu, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel dan Hizbullah terlibat konfrontasi.(*)

sumber: republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *