WASHINGTON, INTTI.ID — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) menyetujui resolusi yang mendesak penarikan pasukan Amerika dari konflik dengan Iran. Resolusi yang disahkan DPR AS pada Rabu (3/6/2026) dengan suara tipis 215 berbanding 208 itu, menjadi pukulan politik bagi Presiden AS, Donald Trump.
Donald Trump melontarkan kritik atas disetujuinya resolusi parlemen tersebut. Trump menilai langkah tersebut mengganggu upaya diplomatik yang sedang berlangsung dan menyebut para pendukung resolusi itu bertindak tidak patriotik.
Pasalnya, selain mendapat dukungan dari Partai Demokrat, empat anggota Partai Republik juga ikut mendukung langkah yang bertujuan membatasi keterlibatan militer AS dalam perang melawan Iran.
BACA JUGA: Ribuan Anak Indonesia di Belanda Diduga Diadopsi secara Ilegal
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengaku kecewa karena pemungutan suara dilakukan ketika pemerintahannya sedang berada dalam tahap akhir perundingan untuk mengakhiri konflik dengan Republik Islam Iran.
“Pemungutan suara itu terjadi tepat di tengah negosiasi terakhir saya untuk mengakhiri perang dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump.
Ia mempertanyakan motif para anggota Kongres yang mendukung resolusi tersebut dan menilai tindakan mereka berpotensi melemahkan posisi Amerika Serikat dalam proses negosiasi.
“Siapa yang melakukan hal yang tidak patriotik seperti ini? Mereka tahu bagaimana posisi negosiasi saat ini,” lanjut Trump.
Resolusi tersebut merupakan upaya Kongres untuk menegaskan kembali kewenangannya dalam urusan perang dan penggunaan kekuatan militer. Partai Demokrat menuduh Trump melanggar Konstitusi AS karena memerintahkan serangan terhadap Iran bersama Israel pada akhir Februari tanpa memperoleh persetujuan Kongres terlebih dahulu.
Mereka juga mengacu pada War Powers Act atau Undang-Undang Kewenangan Perang, yang mengharuskan presiden memperoleh persetujuan Kongres dalam waktu 60 hari setelah mengerahkan pasukan AS ke dalam konflik bersenjata.
Menurut Demokrat, batas waktu tersebut telah terlewati beberapa pekan lalu sehingga operasi militer yang masih berlangsung dinilai tidak memiliki dasar hukum yang memadai. Meski peluang resolusi itu menjadi undang-undang sangat kecil karena kemungkinan besar akan diveto oleh presiden, hasil pemungutan suara tetap dianggap penting secara politik.
Ini merupakan kali pertama DPR yang dikuasai Partai Republik menyetujui langkah yang secara langsung meminta Trump mengurangi operasi militer terhadap Iran sejak perang dimulai tiga bulan lalu.
Trump Kecam Demokrat dan Empat Republikan Pembelot
Trump tidak hanya menyalahkan Partai Demokrat, tetapi juga meluapkan kemarahannya kepada empat anggota Partai Republik yang memilih mendukung resolusi tersebut. Menurut Trump, oposisi politik sengaja memanfaatkan isu perang untuk menghambat keberhasilan pemerintahannya.
“(Demokrat) lebih memilih negara kita gagal daripada memberikan saya satu lagi dari banyak kemenangan,” kata Trump.
Ia juga melontarkan kritik tajam kepada anggota Partai Republik yang membelot dari garis partai. “Empat anggota Partai Republik itu, itu cerita yang berbeda. Mereka hanya mencari perhatian. Mereka seharusnya malu pada diri mereka sendiri,” ujar Trump.
Setelah lolos di DPR, resolusi tersebut kini akan dibahas di Senat AS. Namun, bahkan jika berhasil memperoleh dukungan di Senat, langkah tersebut masih harus menghadapi veto presiden. Karena itu, dampak langsung terhadap operasi militer AS di Iran diperkirakan terbatas.
Meski demikian, hasil pemungutan suara ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di Kongres terhadap keterlibatan Amerika dalam konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah serta semakin kuatnya perdebatan mengenai batas kewenangan presiden dalam memulai dan mempertahankan operasi militer tanpa persetujuan legislatif.(Ald)
sumber: jawa pos















