SERANG, INTTI.ID — Musim kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino mulai membawa dampak terhadap lahan persawahan di Provinsi Banten. Ribuan hektare tanaman padi layu, mengering, bahkan mati sebelum panen.
Sejak akhir Mei hingga 10 Juli 2026, total lahan sawah terdampak kekeringan mencapai 1.139 hektare, terdiri dari kategori ringan 937 hektare, sedang 117 hektare, dan berat 85 hektare.
Dari angka itu, 28,5 hektar telah pulih, 400 hektare berhasil dipanen lebih awal, dan 320 hektare masih berstatus terancam kekeringan.
BACA JUGA: 25 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Rawan Kekeringan dan Kebakaran
Empat kabupaten menjadi episentrum kerusakan. Kabupaten Pandeglang paling parah dengan 593 hektare terdampak, 400 hektare berhasil dipanen darurat. Kabupaten Serang 451 hektare, 320 hektare terancam dan 16,5 hektare proses pemulihan.
Di Kabupaten Tangerang mencatat 81 hektare terdampak, sementara Kabupaten Lebak 14 hektare dengan 12 hektare di antaranya mulai pulih berkat hujan.
Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saiful Bahri Maemun menjelaskan, kondisi kekeringan terparah terjadi di wilayah-wilayah dengan lahan sawah tadah hujan yang jauh dari jangkauan irigasi.
“Tanpa pasokan air dari saluran irigasi, satu-satunya harapan petani adalah curah hujan, yang justru belum turun dalam beberapa bulan terakhir,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/7/2026).
Hasil monitoring Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan menemukan empat kondisi utama yang memperparah situasi, yakni tidak ada hujan dalam beberapa hari berturut-turut.
Kemudian, tidak ada sumber air di sekitar lahan, sumber air yang ada sudah mulai mengering, serta sumber air yang jauh dari lokasi kejadian sehingga menyulitkan proses pompanisasi.
BACA JUGA: Waspada Panas Ekstrem, BPBD Kota Tangerang Ajak Warga Cegah Kebakaran
Di Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, kekeringan melanda 250 hektare lahan dengan 140 hektare masih terancam.
Serupa terjadi di Kecamatan Kopo yang mencatat 85 hektare terdampak dan 45 hektare terancam, serta Kecamatan Pamarayan dengan 30 hektare terdampak dan 50 hektare terancam.
Untuk jangka pendek, penanganan difokuskan pada pompanisasi dan penggunaan selang air dari sumber terdekat. Namun di sejumlah titik, kendala teknis menghadang.
Di Kecamatan Tirtayasa, selang berukuran 3 inci sepanjang 100 meter pinjaman UPTD Balai Penyuluhan Teknologi Pertanian dan Hortikultura (BPTPHP), tidak cukup menjangkau lahan sawah yang berjarak sekitar 900 meter dari sumber air.
Untuk jangka panjang, lanjut Saiful, pihaknya mendorong penerapan strategi mitigasi yang lebih sistematis, yakni penanaman varietas tahan kekeringan seperti Inpari 32, penerapan sistem tumpang sari, pemilihan komoditas palawija untuk lahan kering.
Pihaknya juga mendorong pengaturan pola tanam sesuai kalender iklim. Koordinasi dengan sumur dalam juga sedang dijajaki sebagai solusi jangka panjang di wilayah yang tidak terjangkau irigasi permukaan.
Di tingkat lapangan, UPTD BPTPHP telah bergerak di sejumlah kecamatan terdampak mulai dari Kecamatan Petir, Tirtayasa, Bandung, hingga Jawilan di Kabupaten Serang, untuk melakukan monitoring, mitigasi, dan koordinasi bersama penyuluh pertanian, kelompok tani, serta aparat desa.
Pompanisasi darurat telah digelar di Kecamatan Jawilan dan Petir. Pertemuan koordinasi dengan kelompok tani juga aktif digelar untuk membahas langkah-langkah penanganan yang bisa segera dieksekusi di lapangan.
BACA JUGA: Pemkot Tangsel Bakal Pidanakan Bangunan Liar
Saiful menegaskan, koordinasi tingkat lapangan dengan petugas dan instansi terkait akan terus ditingkatkan untuk mengurangi dampak kekeringan. Termasuk di dalamnya koordinasi dengan perbenihan mengenai stok benih untuk mengantisipasi apabila terjadi puso.
“Rencana tindak lanjut sedang diproses dan dikoordinasikan dengan Korluh, Penyuluh, Poktan, dan sebagainya untuk jangka panjang,” kata Saiful.
Di sisi kesiapsiagaan bencana, Fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026 telah mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memetakan sebanyak 415 titik rawan kekeringan yang tersebar di delapan kabupaten dan kota.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, menyebut wilayah pesisir utara Banten diprediksi menjadi daerah yang lebih dulu merasakan dampak paling berat. Kawasan yang paling berpotensi terdampak membentang dari Kabupaten Serang hingga Tangerang Raya.
Selain sektor pertanian, ketersediaan air bersih bagi masyarakat juga menjadi perhatian utama pemerintah. BPBD terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan respons cepat ketika kondisi kekeringan semakin meluas.(*)
sumber: banpos.co



