AMERIKA SERIKAT, INTTI.ID — Pelatih Tim Nasional (Timnas) Mesir Hossam Hassan menjadi sorotan. Dia mengibarkan Bendera Palestina usai membawa negara piramida tersebut lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Sontak aksinya mengibarkan Bendera Palestina menimbulkan kontroversi. Namun Hossam Hassan menegaskan bahwa dukungannya kepada rakyat Palestina merupakan sikap kemanusiaan dan moral.
Penegasan tersebut disampaikan Hossam dalam konferensi pers menjelang pertandingan melawan Argentina, Hossam Hassan mengatakan isu Palestina memiliki tempat khusus di hati masyarakat Mesir.
BACA JUGA: Maroko Pulangkan Belanda dari Piala Dunia 2026
“Dukungan saya kepada rakyat Palestina adalah sikap kemanusiaan dan moral,” ujarnya, seperti dikutip IRNA dan dilaporkan Pars Today pada 7 Juli 2026.
Hassan menggambarkan situasi kemanusiaan yang dihadapi warga Gaza sebagai sangat berat. Menurutnya, masyarakat Palestina hidup dalam kondisi yang sulit, menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar, ketidakamanan, serta berbagai persoalan kemanusiaan lainnya.
Ia juga mengkritik respons masyarakat internasional terhadap krisis tersebut. “Malu pada kita semua bahwa bangsa ini ditinggalkan sendirian dalam kondisi seperti ini,” kata Hassan.
Pelatih berusia 59 tahun itu menambahkan bahwa konflik berkepanjangan telah menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak.
Bendera Palestina Jadi Simbol Dukungan
Kontroversi bermula setelah Mesir memastikan tiket ke babak 16 besar usai mengalahkan Australia. Seusai pertandingan, Hossam Hassan membawa dan mengibarkan bendera Palestina di lapangan.
Ia kemudian mempersembahkan keberhasilan Mesir lolos ke fase gugur kepada rakyat Mesir dan rakyat Palestina.
Menurut Hassan, pengibaran bendera tersebut dimaksudkan sebagai simbol dukungan terhadap rakyat Palestina.
Aksi Hassan mendapat perhatian luas di berbagai negara Arab dan memicu beragam reaksi. Laporan IRNA menyebut banyak warganet di kawasan Arab memberikan dukungan terhadap sikap pelatih Mesir tersebut dan menilainya sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Di sisi lain, aksi tersebut juga menuai kritik dari sejumlah media Israel.
BACA JUGA: Piala Dunia 2026, Iran Dipaksa Tinggalkan AS Usai Duel Lawan Selandia Baru
Peristiwa ini kembali menunjukkan bagaimana panggung olahraga internasional, termasuk Piala Dunia, kerap menjadi ruang penyampaian pesan di luar sepak bola.
Meski FIFA selama ini memiliki aturan yang membatasi ekspresi politik di lapangan, berbagai aksi simbolik dari pemain maupun ofisial masih kerap memunculkan perdebatan mengenai batas antara solidaritas kemanusiaan dan ekspresi politik dalam olahraga.
Adapun FIFA menunjukkan sikap bias pada aturan yang mereka buat.
Dugaan adanya intervensi politik di lapangan mencuat saat muncul pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang menyebut dia menelepon langsung Presiden FIFA Gianni Infantino.
Telepon Trump ke Gianni itu disebutkan untuk meminta FIFA meninjau ulang kartu merah yang diterima striker andalan AS, Folarin Balogun.
Semestinya, kartu merah membuat Balogun mendapat larangan bermain dalam laga melawan Belgia di babak 16 besar.
FIFA kemudian menangguhkan larangan bermain otomatis satu pertandingan bagi Balogun menjadi masa percobaan selama satu tahun (berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA).
Meski begitu, Amerika tetap kalah 1-4 dari Belgia.(*)
sumber: tribunnews










